:::: MENU ::::
Selalu ada cerita lucu di dalam masyarakat kita, terlebih pada budaya Sunda, yang memang resep heureuy, suka banyol. Bahkan ada lelucon seperti ini: jika ada UU Anti-Guyon, maka suku yang pertama punah adalah suku Sunda.

Di bawah, tiga kisah lucu yang sering diobrolkan di masyarakat Sunda.

1. Sepakbola adalah Nomor Satu

Betapapun sesepuh kami, Bapak Arifin, Lc., telah berwasiat ketika malam pertama tahlilan, bahwa umur itu tak pernah ada yang tahu kapan berakhir, sehingga kami diwanti-wanti untuk tetap berada dalam keimanan, akhlak yang baik, dan selalu beramal saleh. Tahlilan sendiri menjadi salah satu media agar kami semua selalu ingat akan kematian diri sendiri. Nyatanya ketika malam kelima tahlilan, bertepatan dengan pertandingan sepakbola antara kesebelasan tuan rumah PS Tira melawan Persib Bandung (pertandingannya sendiri disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun tv swasta). Jika malam-malam sebelumnya, jamaah selalu memenuhi ruangan yang tersedia, maka malam kelima itu, hanya setengah bahkan kurang jamaah yang hadir.

Sontak, kami yang berada di ruangan geleng-geleng kepala, betapa ingatan akan kematian dikalahkan oleh keinginan untuk menonton pertandingan kesebelasan kebanggaan, yang selalu dibela lahir batin, dimana pun. Akhirnya kami tetap melanjutkan kegiatan tahlil dengan kesimpulan: sepakbola adalah nomor satu, ingat mati, entah nomor berapa. ^_^

2. Pendosa yang Akhirnya Masuk Surga

Salah satu ciri kyai-kyai kampung, termasuk sesepuh kami, selalu menyelipkan heureuy dan banyolan-banyolan khas pesantren. Banyolan (cerita lucu) disampaikan agar kami, para jamaah, tetap fokus pada apa yang disampaikan ketika khutbah. istilah zaman now-nya semacam ice breaking.

Begini kisahnya: ada seorang manusia, selama hidupnya tak pernah beramal saleh, tak pernah berbuat kebaikan sedikit pun. Dia selalu berada dalam perbuatan buruk, selalu melakukan hal-hal yang membuat dosa dalam agama. Sudah jelas ketika ajal menjemput orang ini akan berada di dalam neraka. Maka, malaikat pun memanggil pendosa itu. Dilihatnya catatan amal selama berada di dunia, malaikat terperangah dan kesal alang bukan kepalang. Dipikirnya ada ya, manusia yang seperti ini. Dosa, dosa, dan dosa saja yang diperbuatnya. Kesal. Malaikat menjambak rambut orang itu. Kekesalannya sudah melampaui batas. Dengan amarah malaikat pun melemparnya ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Saking kesal dan marahnya, orang itu dilempar sekencang-kencangnya. Saking kencangnya, orang itu terlempar sangat jauh. Saking jauhnya, yang seharusnya masuk neraka, neraka pun terlewati, dan akhirnya ... jatuh ke dalam surga.

3. Gelar Haji Lebih Penting

Sebutlah perempuan itu namanya Fulan bin Fulan, salah seorang tamu malam itu. Bukan sembarang tamu, karena dia adalah salah satu tokoh di dinas pendidikan provinsi. Karena sebelum acara dia meminta waktu untuk menyampaikan rasa belasungkawa, --atas nama pribadi dan institusinya-- kami menyediakan waktu lima sampai sepuluh menit, dan mempersilakan kepadanya memberikan sepatah dua patah kata.

Karena tamunya istimewa, maka master ceremony menanyakan kepada saya siapa nama tamu tersebut. Setelah mendapatkan nama dengan tambahan gelar akademis, sang MC kembali mengkonfirmasi kepada tamu tersebut agar tidak terjadi kesalahan nama.

Nama bapak benar seperti ini, Fulan bin Fulan, S.Pd. tuan MC menunjukkan secarik kertas.

Gelarnya sudah M.Pd., coret saja S.Pd.-nya. Tapi nggak apa-apa kalau gelar itu, tetap S.Pd. sahutnya.

Lalu?'

Yang paling penting huruf H di depan nama saya jangan terlewat.

Maksudnya H, Haji Fulan bin Fulan?

Nah, iya itu.

Kenapa?

Soalnya gelar yang di depan dapatnya susah, sudah biaya yang tidak sedikit, jauh, dan buat saya gelar itu membuat saya lebih pede saja, hehe, disusul tawanya yang renyah penuh kebanggaan.

-ooOoo-



#OneDayOnePost

0 komentar:

Post a Comment