:::: MENU ::::

“Akhirnya kita bisa merayakan kemenangan ini,” tawanya kembali terdengar angkuh, "tanah di pinggir danau sudah menjadi milikku, tak ada lagi yang bisa menghalangi rencanaku." Perut tambunnya bergoyang mengikuti irama tubuh.

Dirinya meneguk habis sisa air mineral yang tersaji di meja kerja, menatap lamat-lamat dirimu yang terbujur kaku di atas meja persegi kecil. Tampak istimewa, ketika sebuah kotak kaca mengkilap melindungi tubuhmu.

“Ayolah, tersenyum sedikit. Tak ada salahnya kita sedikit merayakan keberhasilan ini.” Pria dengan kepala setengah botaknya merajuk. Langkah-langkah lamat pria itu mendekati kotak kaca, perlahan mengangkatnya.

"Bangunlah, tak usah sungkan," suaranya setengah berbisik, "tidak ada siapa pun di sini."

Selang beberapa waktu, matamu mengerjap lemah, disambut wajah gembira dari pria yang sedari tadi menatapmu. Akhirnya bibirmu mengembang lebar, tersenyum sinis.

-ooOoo-

“Agan,  tadi bicara sama siapa?” tiba-tiba suara itu mengagetkan dirimu.

“Ah, eh ... siapa Mang? Aku?”

Sumuhun,  tadi Mamang dengar Agan berbicara dengan seseorang.”

“Nggak. Teu aya sasaha, Mang, di dieu mah,” Jamhur, pria berkepala setengah botak itu menyembunyikan kekagetannya, “lagian Mamang kenapa ada di ruangan ini? Ketuk pintu dulu, ucapkan salam, kan bisa?” Kau hanya diam, menyaksikan orbolan dua orang dari ruang kecil berkaca bening.

“Saya sudah ketuk-ketuk pintu beberapa kali, Gan. Ya sudah Mamang masuk saja, mendengar Agan sedang mengobrol.” Somad, pria umur tiga puluhan berambut ikal, berwajah putih bersih dengan mata sendu itu menjawab polos. Dia benar-benar bingung melihat di dalam ruangan itu hanya ada Jamhur, majikan sekaligus sosok yang dikaguminya.

“Sudah, Mamang kan hanya pesuruh saja di sini, tidak usah banyak tanya. Mungkin karena pekerjaan Mang Somad banyak, terlalu lelah, akibatnya pendengarannya terganggu.”

-ooOoo-

Jalanan padat merayap. Terik matahari begitu garang. Pedagang asongan mulai menjejali ruas jalan, merangsek menuju mobil-mobil dengan kaca hitam tertutup rapat. Di belakang kemudi, Jamhur, Lurah Bojongherang, mulai berkeringat. Tampaknya bukan karena kemacetan mobil yang mengular atau panas siang hari itu. Di dalam mobilnya sendiri terasa adem, lebih berasa dingin.

Matamu mengerjap, disusul bibir yang mengembang, tersenyum licik. “Tenang saja, Jamhur. Kau tidak usah cemas. Semuanya akan selesai sesuai keinginanmu.

“Aku tidak suka dengan bupati sok suci itu. Memangnya dia siapa?” Pria itu mulai mengumpat. “Semenjak dia menjabat setahun lalu, bisnisku mulai terancam. Aku tak bisa lagi berbuat seenaknya tanpa ikut pada aturan yang sudah disahkan dewan. Mereka pun mati kutu, terjebak dalam aturan yang sudah dibuatnya sendiri.”

Tidak ada manusia sempurna, Jamhur. Orang itu pun pasti punya titik lemahnya. Kau tetap dengan tutur kata santun, membawa pesan-pesan agama tentang kebaikan dan kejujuran, tidak usah terbawa emosi.”

“Apa saranmu kalau begitu? Jangan bilang kau tidak mempunyai jalan keluar!”

Tentu saja, aku hanya minta waktu beberapa minggu.” Kepalamu bergerak kaku ke arah Lurah Jamhur, memandang tajam, menembus pikiran dan alam bawah sadar pria yang duduk di balik kemudi itu.

“Waktu berapa lama lagi. Aku sudah cukup sabar untuk menunggu. Percuma saja tiap malam Pahing aku ruwat dirimu. Kurang apalagi usaha diriku untuk membuat kau senang.”

Tidak usah emosi seperti itu. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Sangat paham. Serahkan saja pada diriku, Jamhur. Siasat diriku dengan membawa doktrin agama tak pernah meleset, salalu berhasil menumbangkan siapa pun yang aku benci.” Senyum sinismu semakin lebar. Dari dalam mobil berpendingin, kau menatap seorang anak meminta belas kasihan, meminta sekadar uang recehan

-ooOoo-

Somad melewati bagian depan ruang kerja Lurah Jamhur. Perlahan pria itu memanggil-manggil juragannya. Tidak ada yang menyahut. Saya yakin, Agan tadi masuk ke ruangan ini, tidak mungkin salah. Akhir-akhir ini kelakuannya semakin aneh, semenjak Agan menyimpan benda itu di ruang kerjanya.

Pesuruh itu kembali melangkah perlahan, melirik untuk memastikan tidak ada Jamhur atau seseorang pun di ruangan itu. Pandangannya menyapu seisi ruangan. Semuanya seperti sedia kala, persis sama ketika dia menata ruangan itu tahun lalu. Foto presiden dan wakil, burung garuda dan lukisan padang pasir menghiasi dinding-dindingnya. Di atas meja tergeletak laptop, pena bulu dan tintanya, tumpukan berkas untuk ditandatangani, penyejuk ruangan, serta perangkat audio video.

Seketika matanya terpaut pada sosok benda yang selama ini membuat Somad selalu bertanya-tanya. Sesosok benda di dalam kotak kaca tepat di sudut ruangan. Pria itu mengamati lekat-lekat dengan penuh rasa ingin tahu. Benda apa kau sebenaranya. Inikah benda yang telah mengganggu kewarasan juragan.

Sadar menjadi perhatian pesuruh itu, tubuhmu tidak bergeming. Bahkan dadamu sekali pun tidak terlihat kembang kempis. Di dalam hati kau tertawa terbahak. Kau tahu bahwa pria itu tidak akan pernah bisa memahami dirimu, atau melihat dirimu sekadar mengedipkan mata. Tetapi sebaliknya, kau paham betul siapa Somad, apa pekerjaannya, bagaimana tabiatnya dan semua tetek bengek lainnya. Bahkan jika mau, kau bisa masuk ke dalam pikirannya, lalu membisikkan sesuatu agar dia melakukan apa pun yang kau inginkan.

“Benda apa kau sebenarnya?” Somad membuka penutup kaca, meletakannya di atas meja. Perlahan dia angkat benda berwajah keriput dengan mahkota hitam di atasnya.

“Apakah kau yang membuat juragan berubah tabiatnya? Lihat matamu, begitu licik dan culas. Jika benar benda ini yang membuat juragan berubah, saya tak akan membiarkanmu berada di sini, dengan cara apa pun. Saya akan menghancurkanmu cepat atau lambat.”

Pintu seketika terbuka, ketika pseuruh itu sedang memperhatikan benda yang kini berada dalam genggamannya.

“Apa yang kau lakukan Somad?!” begitu melihat pesuruh itu memegang sebuah benda, pria itu dengan sebuah bentakan menyuruh Somad meletakkannya.

“Agan ...,” benda yang di dalam genggaman Somad langsung direbut Jamhur. “Saya hanya membersihkan kotak kaca itu, terus saya melihat ...,”

“Sudah cukup, Somad!” Pitamnya naik, “Maksudku Mang Somad. Mamang hanya perlu membersihkan ruangan ini, tidak usah membersihkan benda yang satu ini.” Jamhur berusaha meredam pitamnya yang naik.

Di dalam genggaman Lurah Jamhur, kau mulai mengerjap mata. Perlahan. Lalu sungging bibir menghiasi wajah, lamat-lamat. Akhirnya kau tersenyum angkuh, merasa telah berhasil membuat sedikit konflik diantara keduanya, Lurah Jamhur dan Mang Somad. Sebentar lagi kau akan merasakan akibat dari perlakuanmu kepadaku Somad. Tidak ada yang bisa lepas dari ancamanku.

-ooOoo-

Dua bulan berselang, setelah Jamhur berhasil menguasai tanah seluas hampir dua hektar dan menjadikannya tempat wisata terbesar di ibu kota kabupaten. Dirimu berdiam dengan tenang, berdiri dengan kedua telapak tangan terbuka, dan diletakkan menyilang di depan dada. Selalu seperti itu, seakan telah menjadi ritual, ketika satu urusan telah selesai dan dengan kemenangan berada di pihakmu.

Hanya selangkah lagi Jamhur akan merasakan penderitaan yang berkepanjangan, atas balasan apa yang dilakukannya. Bukan, bukan diriku yang akan membuatnya menderita. Aku hanya menjadi perantara yang bisa memenuhi nafsu rakus si tua bangka itu. Aku sama sekali tidak bertanggung jawab akibat dari perbuatannya.

Pintu terbuka kencang, membuat dirimu kaget. Tiba-tiba menyeruak perasaan takut terhadap siapa yang telah datang memasuki ruangan yang kau tempati.

“Gan ... Agan! Dimana kau? Saya membawa sesuatu yang bisa menyelamatkan Agan.”
Perasaan takut itu semakin membesar. Sebuah aura putih yang kuat mendekat, seiring mendekatnya Somad ke arah dirinya. Perlahan tapi pasti, tubuhmu gemetar.

“Nah, akhirnya kita bertemu lagi makhluk jelek. Sekaranglah waktunya kau mengakhiri semua kebusukanmu.” Matamu semakin membelalak, tak percaya apa yang ada di hadapanmu.

"Apa yang akan kau lakukan, Somad!" Dirimu berteriak kepada Somad. "Sekali kau berani macam-macam terhadap diriku, nyawamu yang akan jadi taruhannya, aku tak akan mengampunimu."

“Lihat apa yang kubawa untuk membinasakanmu. Dari awal aku merasa ada yang ganjil. Dan ternyata diriku benar, kau adalah Sengkuni!” Seringai senyum Somad tampak begitu puas melihat dirimu semakin pucat. Kau tak lagi terlindungi dari penutup kaca. “Wajahmu boleh saja seperti orang paruh baya yang bijak, bermahkota seakan dirimu seorang bangsawan, tapi Tuhan Maha Melihat. Secerdik apa pun dirimu menyembunyikan kebusukan, suatu saat pasti akan tercium juga.”

"Omong kosong. Kau kira dirimu bisa mengalahkanku hanya dengan keyakinan, hah? Boleh saja kau akhirnya tahu siapa diriku sebenarnya, tetapi diriku tak akan pernah dikalahkan oleh siapa pun, sampai hari kiamat nanti tiba." Apa yang kau ucapkan hanya membuat dirimu semakin memperlihatkan ketakutanmu. Ada getar tidak yakin dan takut ketika dirimu berbicara.

“Bukan aku yang akan mengalahkanmu, Sengkuni. Siapa bilang diriku yang akan mengalahkanmu? Tapi dirinya!” Sesosok dengan tubuh hitam legam, berwajah putih bercahaya, perut buncit, pantat super besar, dan berjambul putih --yang tak lain adalah Semar-- diperlihatkan Somad kepada dirimu.

"Apa, apa yang kau lakukan manusia terkutuk. Berani-beraninya kau membawa makhluk itu ke hadapanku dan menyuruhnya membunuhku?!"

“Hahaha, kenapa wajahmu begitu pucat? Bukankah kau selalu mengatakan bahwa dirimu tak pernah terkalahkan?” Somad semakin mendekatkan benda dengan tubuh hitam yang dia bawa kepadamu.

“Dan hanya sosok inilah yang bisa melenyapkanmu selamanya.”

"Jangan Somad. Aku mohon kau tidak menyuruh makhluk itu untuk membunuhku. Aku akan memberimu apa saja, aku akan mengabdi kepadamu asal makhluk itu kau bawa keluar dari sini."

“Inilah akhir hayatmu. Semar, akan mengambil semua kekuatan hitam yang menjelma dalam dirimu dan dengan segera akan membunhmu. Ya, Semar akan segera membunuhmu Sengkuni, Semar akan membunuhmu! Begitu pula dengan diriku, aku ingin membunuhmu, aku ingin membunuh Sengkuni!”

-ooOoo-

*) Sengkuni, tokoh pewayangan yang terkenal licik, berwajah dua, dan sering disimbolkan sebagai tokoh yang suka memecah belah

**) Tulisan ini diterbitkan di dalam buku antologi cerpen "Batu yang Menjadi Saksi", JWriting Publisher, 2018.


#OneDayOnePost
#Fiksi

13 comments:

  1. Bagus..berkarakter


    Sudah lama nggak Baca fiksinya Mas Dwi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, vakum nya kelamaan.. makasih Mbak Wid :))

      Delete
  2. Replies
    1. Sengkuni yang licik, hehehe.. semangat lagi nge-ODOP

      Delete
  3. Keren Pak Dwi, lama Tak baca karyanya, Saya suka ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Bun, sdh luama gak posting, kebanyakan nulis rencana pembelajaran, hehehe

      Delete
  4. Keren ceritanya. Banyak pembelajaran dari cerita ini

    ReplyDelete
  5. Huaaaa kereeen. Sampai mau minum aja ditunda sampai selesai tuntas bacanya.

    ReplyDelete
  6. Keren serasa aku lagi baca basabasi.co mantapp~

    Salken dari Iput, newbie! :)

    ReplyDelete