:::: MENU ::::

Selepas bercengkerama dengan anak-anak hebat dalam ilmu kimia, saya kembali merebahkan badan di sebuah sofa ruang para pengajar di sebuah sekolah ibu kota kabupaten. Mereka anak-anak yang luar biasa, saya bisa melihatnya hanya dari wajah-wajah yang memandang diriku tanpa berkedip. Apalagi ilmu kimia bagi mereka adalah bagaikan ilmu sihir yang untuk memahaminya dibutuhkan daya khayal tingkat tinggi. Rumit sekaligus menarik, bahkan untuk diobrolkan di kantin sekolah bersama semangkuk mie goreng instant dengan harga super murah.

Mereka adalah generasi penerus bangsa ini, anak-anak didik yang akan dibesarkan bersama gonjang-ganjing para manusia di akhir zaman. Mereka akan menjadi saksi bagaimana huru-hara dan semacamnya siap menyergap di sepanjang tempat yang mereka singgahi, menjadi saksi fitnah semakin merajalela.

Sedang asyik-asyiknya rebahan, hanya untuk sekadar menghirup bau badan yang mulai apek, gadis itu menghampiri diriku dengan senyuman khasnya. Entah punya maksud apa menghampiri diriku, gadis itu memulai pembicaraan dengan menyapa kabar, setelah pada awal pekan dua hari sebelumnya, saya tak bisa memberi pengajaran di kelasnya. Setelah beberapa tanya basa-basi, matanya membulat, melihat tumpukan buku yang tersusun rapi di dalam kardus, yang kuletakan di lantai samping meja kerja.

"Buku-buku siapa itu, Pak?" Lirikan matanya semakin tajam.

"Pesanan teman-teman. Sebagian buku kimia dan persiapan ujian perguruan tinggi. Anak-anak yang memesannya." Saya menjelaskan, "keren sekali, Din. Tiga hari Bapak berada di kota kembang, shopping buku-buku keren. Kebetulan di sana sedang ada "Out of The Box" dari penerbit Mizan, Cinambo."

"Waah ...," lingkaran hitam itu begitu sempurna tidak terhalang kelopak, "Dinda mau ya Pak. Satu atau dua buat Dinda."

Dinda Maharani, nama yang sangat baru menghiasi daftar nama anak-anak hebat yang berada di sini. Keberadaanku di sekolah ini untuk memberi pelajaran di dua kelas: kimia dan ilmu komputer. Dan gadis istimewa itu salah satu anak yang berada di kelas komputer. Wajah lonjong dengan tulang pipi menonjol, khas orang-orang dari tanah minang, memiliki karakter yang unik: berbicara banyak dengan intonasi cepat dan tinggi, menyukai ilmu komunikasi dan hukum, dididik keras oleh kedua orang tuanya, bahkan kini tinggal di sebuah kabupaten di Provinsi Banten, sedang orang tuanya tinggal di Tanah Minang, dengan jarak ribuan kilometer.

Spontan Dinda (DM) duduk di hadapan diriku (DS), lalu memulai obrolan panjang, yang membuat pikiranku menerawang, teringat akan perjalanan kereta Serayu, bertemu dengan gadis lain yang memberiku segelas lemon tea. Tapi tulisan ini bukan menceritakan tentang gadis yang memberiku segelas lemon tea. Tulisan ini berkisah tentang anak didikku yang bernama Dinda Maharani, ketika dirinya merasa jauh lebih baik semenjak lebih sering membaca dan menulis.

DM: Cocok kan kalau aku ambil jurusan hukum tahun depan?

DS: Hm, lebih pas ilmu komunikasi saja, Din.

(kami berdua saling bertatapan, mencoba mengisi pikiran sendiri dengan kemungkinan yang terjadi tahun depan)

DM: Iya sih, Pak. Kata ayahku juga seperti itu. Kelihatannya asyik juga kalau belajar di ilmu komunikasi.

DS: Coba saja. Toh, saya lihat kamu mempunyai bakat yang berbeda dengan teman-temanmu yang lain. Pikiranmu cukup tertata ketika mengobrol beberapa waktu lalu. I like it very much.

DM: Thank you, Sir. Nanti Dinda coba cari seperti apa sih ilmu komunikasi itu. Kalau nggak, ya, tetap memilih hukum.

DS: Bagus juga tulisan kamu yang diposting di Wattpad, True story ya?

DM: Yup! Bapak sudah baca juga? Wah, terima kasih lho. Jadi senang nih. (senyumnya menyeringai lebar, sampai terlihat deretan putih geriginya). Dua tahun lalu, mungkin tahun lalu sepertinya. Ada seorang cowok yang menyukai aku, dan dia ingin mengenal lebih dekat. Walaupun berbeda keyakinan, orangnya baik kok Pak.

DS: Kamu suka juga sama cowok itu?

DM: Tentu saja, Pak. Sudah ganteng, baik, pintar lagi. (seringai kembali menghias wajahnya) Toh, aku punya prinsip, menyukai seseorang bukan berarti harus ada ikatan atau status pacaran.

DS: Memangnya pacaran boleh?

DM: Nah itu Pak. Lagian buat apa sih pacaran, lebih banyak keburukan daripada kebaikannya lho, Pak.
(diriku tersenyum, seakan mengajari diri saya, anak itu terus mengoceh tentang tulisan di Wattpadnya)

DM: Terus, ya begitu deh. Aku hanya mengatakan bahwa anak muda itu bukan waktunya buat pacaran. Sayang banget kalau hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri. Padahal anak-anak muda seusia Dinda adalah masa-masa emas untuk berbuat banyak hal. Apa itu menulis, membaca, membuat sebuah proyek kemanuisaan, membuat karya tulis yang bermanfaat.

DS: Kenapa tidak gabung dalam komunitas? Menurut saya, Dinda bakal lebih terasah kemampuannya jika bergabung dalam komunitas.

DM: Iya sih, Pak. Bener banget. Pas pulang kampung ke Tanah Minang, teman-teman Dinda yang ada di sana bilang, eh, kamu kok jadi berubah. Nggak lagi bicara asal, nggak lagi gampang emosian. Nah, dari sana Dinda sadar kalau kita banyak baca, banyak nulis, otomatis obrolan kita bakal lebih terarah, tidak asal bicara, dan kalau adu argumen tidak mungkin hanya berpendapat tanpa ada dasar yang kuat yang melatarbelakanginya.

DS: Widiih, keren amat anak Bapak yang satu ini.

DM: Di kelas juga gitu kok, Pak. Sama. Teman-teman lebih suka pas Dinda mengemukakan pendapat. Kan, banyak Pak, ya, teman-teman di kelas yang nggak suka sama seseorang hanya karena baca berita-berita bohong. Lantas mereka ujug-ujug jadi ikut-ikutan mem-bully, menjelek-jelekkan, tiap hari hanya mengatakan keburukan. Nyinyir gitu Pak, bahasa gaulnya.

DS: Setuju lah kalau masalah itu. Tahu nggak kenapa orang-orang gampang kemakan isu-isu fitnah, kabar hoaks, berita bohong?

DM: Apa Pak?

DS: Karena mereka sangat sedikit membaca. Menurut UNESCO saja, orang-orang di negeri ini menduduki peringkat kedua dalam hal melek literasi atau budaya baca tulis.

DM: Peringkat dua, Pak?

DS: Ya! Peringkat dua dari bawah, haha ....

DM: Ish, si Bapak!

DS: Makanya, ketika mereka lebih gampang menerima berita atau informasi, langsung dipercaya, langsung di-share tanpa mau bersusah payah untuk membaca sumber lainnya yang relevan. Mereka lebih mengagungkan prasangka daripada tabayyun..

DM: Kalau sudah benci sama seseorang, mah, susah ya Pak. Maksudnya, susah kalau melihat kebaikan orang yang dibencinya.

DS: Bukan tidak punya kebaikan, ya.

DM: Betul, Pak. Tapi ketika orang yang dibenci melakukan kebaikan saja masih dicari kesalahannya, apalagi berbuat hal yang buruk, mereka sangat suka sekali, karena menemukan keburukan atau kejelekan orang lain.

DS: Cerdas.

DM: Padahal dalam agama, fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kenapa sekarang lebih banyak berlomba-lomba untuk membenci, labih suka menebar berita bohong, lebih mendahulukan prasangka dibanding tabayyun, gampang marah-marah dan merasa dirinya selalu lebih baik dan paling benar dibanding orang lain.

(bel berbunyi. Kami pun mengakhiri percapakan. Dia berpamitan pulang, dengan membawa dua buah buku. Sedang diriku kembali menjinjing laptop dan perangkat pembelajaran, melangkah gontai menuju sebuah kelas yang berisi anak-anak hebat generasi penerus bangsa)

-ooOoo-

#OneDayOnePost

1 comment:

  1. Pembicaraan yang bermutu antara murid dan guru. Salut sama DM

    ReplyDelete