:::: MENU ::::

Selalu saja diri saya merasa kagum dengan landscape yang tersaji sepanjang perjalanan itu. Pada tulisan lain di blog ini, pernah diulas tentang terowongan Sasaksaat, sebuah terowongan yang membentang di tengah-tengah pegunungan, diantara daerah Kabupaten Purwakarta -  Padalarang. Dan tulisan kali ini (sekali lagi) akan berbincang sedikit tentang salah satu terowongan terpanjang di negeri ini.

Bukan hal yang istimewa bagi sebagian orang. Namun bagi diri saya, perjalanan Jakarta - Bandung menggunakan kereta api Serayu, selalu membuat decak kagum dan takjub. Walaupun sudah beberapa kali --sedikitnya dua bulan sekali-- menaiki gerbong dengan tujuan akhir di kota Purwokerto ini.

Tetap saja rasa kagum itu muncul, sama besar ketika pertama kali saya menggunakan gerbong Serayu. Seperti anak kecil, selalu kagum pada suatu barang yang pertama kali mereka temui, lalu dipukul-pukul, dimakan, dilempar, berulang-ulang dan terus berulang. Selalu merasa asing dengan benda itu. Padahal menurut kita orang dewasa, perlakuan itu tidaklah menarik. Tetapi anak-anak kecil selalu antusias mengulang-ulang perbuatan yang telah mereka lakukan. Persis ketika mereka meminta diceritakan dongeng sebelum tidur. Malam ini mereka mendengarkan satu cerita. Malam berikutnya mereka akan meminta diceritakan kembali. Bahkan malam-malam berikutnya tetap saja wajah mereka mamancarkan ketertarikan, walau ceritanya sama dengan malam-malam sebelumnya. Dan entah kenapa, saya pun meresakan seperti itu.

-ooOoo-

Berangkat dari stasiun Stasiun Pasarsenen --salah satu stasiun tua dan paling sibuk-- pukul 09.15 menuju Stasiun Kiaracondong. Tiga jam lebih perjalanan tiba di stasiun yang terletak di daerah Bandung Selatan itu tepat pada pukul 12.59, dengan membawa beban beratus ton, beribu penumpang, berkuintal-kuintal logistik, beratus liter bahan bakar, pelumas, dan pendingin mesin, merayap sabuk besi yang berumur ratusan tahun. Selepas Cikampek, jalur rel mulai merayap naik, berkelok-kelok membuat laju gerbong melambat, selangkah demi selangkah mulai menapaki perbukitan. Derit gesekan roda dengan rel --yang sama-sama terbuat dari besi-- semakin membuat diri saya tak bisa memejamkan mata sekejap pun.

Sampailah di pegunungan yang memanjang dari arah barat-timur. Tidak terlalu tinggi memang. Skala paling tinggi kurang dari 600 mdpl (meter di atas permukaan laut). Atau mungkin lebih tepatnya jalur ini hanya merayap sepanjang perbukitan. Lalu, tepatnya di daerah Purwakarta, gerbong mulai melewati beberapa jembatan, dan akhirnya lintasan yang paling legendaris akan saya lewati: Terowongan Sasaksaat!

Saya coba menghitung waktu ketika gerbong berada di dalam terowongan. Lebih dari satu menit lamanya. Anggaplah lama perjalanan di dalam sekitar 1,3 menit, dan laju kereta 50 km/jam. Maka bisa dihitung panjang terowongan adalah 1,3 menit per 60 menit dikali 50 km/jam sama dengan (lebih dari) 1,08 km. Bayangkan saja, panjangnya lebih dari 1 km, dengan rel berbentuk huruf "v" terbalik. Menembus perbukitan Sasaksaat. Hebatnya lagi, terowongan ini telah berusia 100 tahun lebih (mulai beroperasi sekitar tahun 1902). Sampai sekarang masih berdiri kokoh tanpa ada sedikit pun cacat, retak, atau pun miring.

Seorang gadis yang duduk berhadapan tersenyum simpul. Bertanya dengan gaya anggun dan suara lembut: Akang tahu artinya Sasaksaat?

Tentu saja, saya membatin. Sasak dalam Bahasa Sunda berarti jembatan, sedangkan saat (masih dalam Bahasa Sunda) memiliki arti kering, dari ada air menjadi tidak ada. Arti bebasnya adalah jembatan kering, atau jembatan yang melewati sungai yang telah saat, telah mengering. Kalau diperhatikan memang ada jembatan kereta api melewati perbukitan, tidak melewati sungai, seperti sungai yang tidak ada airnya (saat). Sudut pandang paling jelas bisa dilihat jika kita berkendara mobil atau bus melewati jalan tol Cipularang km. 83,4. Dari sana sangat jelas jembatan besi dengan lengkungan di bawahnya, membentang diantara perbukitan.

-ooOoo-

Lebih menarik lagi adalah percakapan saya dengan gadis berwajah lonjong dan bermata bulat hitam itu. Gadis yang memberiku segelas lemon tea, mempunyai rahang keras, seperti Nyai Ontosoroh di dalam cerita "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer.

Sepertinya saya sudah pernah menceritakan obrolan ini di tulisan sebelumnya. Atau belum ya? Kalau belum, saya akan tuliskan obrolan di dalam gerbong Serayu di blog ini esok hari. Sebuah obrolan yang sangat menarik dan ilmiah (tentu saja).

Dan, selalu siapkan kopi panas di dalam cangkir sebelum membaca tulisan-tulisan saya di locustaviridis.com. Kalau tidak es teh manis. Lebih nikmat lagi menyeduh segelas lemon tea
.
-ooOoo-

#OneDayOnePost
#TravelAddict

3 comments:

  1. Hmm.. keren nih mas Dwi. Di dalam gerbong kereta masih sempat2nya menghitung berapa panjang terowongan berdasarkan fisika. Memang ilmu apapun paling asik klo diterapin di keseharian.

    Ngomong2, bahasa jawanya kering juga hampir mirip dg sunda.
    Sunda= saat. Jawa= sat (habis, kering).

    Mas Dwi, cerita tentang dunia molukuler-nya mana? Pengen baca dong...(kalo boleh) he3x

    ReplyDelete