:::: MENU ::::

Kejadian yang sangat mengerikan dan memilukan terjadi kembali di dunia olahraga negeri ini, yaitu cabang sepak bola. Tepat pada Hari Minggu (23/9) seorang pemuda bernama Haringga tewas mengenaskan di luar stadion, ketika pertandingan antara kesebelasan Persib "Maung" Bandung melawan kesebelasan ibu kota Persija Jakarta.

Bukannya menikmati pertandingan dan memberikan dukungan penuh penonton di luar stadion malah melakukan tindakan biadab. Pendukung tuan rumah begitu melihat seorang pendukung tim lawan langsung menyerang dan memukulnya dengan membabi buta sampai tewas. Pendukung tim tuan rumah, kita mengenalnya dengan "Viking", melihat supporter tim lawan sebagai musuh yang harus selalu dilawan. Pola pikir fanatisme buta yang telah menyebabkan kewarasan manusia hilang, digantikan dengan fanatik buta, pembelaan berlebihan, dan selalu menganggap golongan di luarnya adalah musuh atau orang-orang yang tidak pernah memiliki nilai kebaikan.

Setelah kejadian itu, berbagai ungkapan simpati dan bela sungkawa berdatangan, mengundang komentar-komentar yang silih berganti mengutuk kejadian di Stadion GBLA (Gelora Bandung Lautan Api) itu, karena bentrokan antar supporter yang menelan korban jiwa bukanlah sekali atau dua kali melainkan berkali-kali dengan kejadian dan tempat yang berbeda.

Melihat dari jauh bentrokan yang sangat memalukan dan mencoreng dunia sepak bola negeri ini, saya teringat pada sebuah buku dari Marpaung, "Setengah Isi Setengah Kosong", dengan sampul sebuah gelas bening berkaki, terisi air berwarna biru hanya setengahnya. Dalam buku tersebut kita diajak untuk merubah pola pikir (mindset) kita tentang suatu hal atau kejadian. "Setengah Isi Setengah Kosong" mengingatkan kita bahwa ketika melihat gelas dalam keadaan seperti itu, bukan melihat gelas itu tinggal setengah kosong, tetapi gelas itu ternyata masih setengah isi.

Bukankah sama saja gelas dan isinya? Tetapi kenapa bisa berbeda dalam mengatakan keadaan gelas tersebut?

Jika boleh dikatakan isi gelas itu sebagai kebaikan, sedangkan ruang sisanya sebagai kekurangan, maka gelas itu akan berisi setengah kekurangan dan setengah kebaikan. Nah, di sini kita diajak untuk lebih bijak, karena seringkali kita hanya melihat kekurangan, melihat ruang kosong dari gelas itu. Maka, kita selalu memandang jelek terhadap suatu hal atau seseorang. Dalam diri mereka selalu tampak kekurangannya, selalu memberi label jelek, dan tidak pernah melihat kelebihan atau kebaikannya. Apa yang terjadi jika seperti itu? Tentu saja kita akan berpikir tidak adil terhadap hal atau orang yang kita nilai itu. Kebaikannya akan kita anggap pencitraan, prestasinya akan kita katakan "ah, itu hanya kebetulan saja" atau mengutip kata-kata Mario Teguh, "terang saja juara, orang tuanya kaya raya, bisa membeli apa pun yang dia inginkan". Pertolongannya akan kita sangka sebagai "udang di balik batu".

Apalagi kesalahannya. Kita akan senang sekali melihat kekurangannya. Kita akan share kekurangannya kepada siapa pun. Kalau perlu seribu kebaikan tidak usah diberi aplaus, tapi satu kesalahan harus dikatahui oleh seribu orang.

Alangkah indahnya jika kita balik mindset jelek, hanya melihat setengah kosong tersebut. Bukankah di dalam ajaran agama, kita dianjurkan untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, berlomba-lomba dalam meraih prestasi, berlomba-lomba menutup aib orang lain sebanyak-banyaknya. Agama tidak mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam membenci, mengolok-olok, menertawakan dengan sikap angkuh atau merendahkan. Agama tidak mengajarkan kita berlomba-lomba mengumbar kekurangan orang lain, menghina dan memberi label negatif kepada orang lain. Tidak sama sekali!

Benang merahnya adalah, segala sesuatu yang ada di sekitar kita, hanya ada setengah isi. Dimana kita melihat semua orang dari setengah kebaikannya, tidak peduli dengan setengah kekurangan lainnya.

Semoga bermanfaat. Tabik!

-ooOoo-

#OneDayOnePost

#SebarCeritaBaik

1 comment: