:::: MENU ::::

Ada saja obrolan ringan tentang anak-anak didik di sekolah ini. Obrolan antara para guru bersama sacangkir kopi putih dan senda gurau yang sering membuat kami terbahak. Kalian tahu, hal-hal yang tak pernah terpikir tapi tetiba membuat kami terharu, marah, sekaligus ingin tertawa karena kalau dipikir lagi itu hal yang sangat konyol.

Saya sendiri mengalami beberapa kali hal konyol dan berakhir dengan rasa geli. Pada satu kesempatan kami --saya dan anak-anak-- akan mengadakan praktikum ilmu kimi, dengan judul besar "Sifat Koligatif Larutan", yaitu sifat larutan yang hanya bergantung pada jumlah zat terlarut, tidak bergantung pada jenis zat terlarut. Sifat tersebut terdiri dari empat jenis: (1) penurunan tekanan uap; (2) kenaikan titik didih; (3) penurunan titik beku; dan (4) tekanan osmotik. Salah satu bahan yang harus dibawa praktikan tersebut adalah aquades. *)

"Oke, Rabu lusa kita akan praktikum, bahannya kalian bawa sendiri: aquades." Instruksi saya jelas, menggema di ruang laboratorium.

"Aquades itu air aqua merk Ades, ya Pak?!" Anak berambut lurus sebahu dengan wajah polos itu mengangkat tangannya. Sontak saya terkaget, bercampur rasa marah dan ingin ketawa.

Di suasana lain, beberapa guru Bahasa Inggris mengeluh tentang kemampuan spelling dan conversation anak-anak didiknya. Bagaimana tidak, hanya untuk memberi satu kata perintah saja --dan jawabannya sudah disediakan di kolom kanan-- banyak yang tidak paham. Apalagi ketika mereka disuruh membuat satu kalimat, merangkainya menjadi satu paragraf, sampai membuat cerita satu halaman penuh. Maka, saat itu di sebuah pembelajaran di ruang kelas Miss E, biasa kami memanggilnya, menjelaskan tentang bahasan yang akan dipelajari pada saat itu.

"Oke class, today you should tell about family." Suara merdunya membuat beberapa anak terbuai, membuat matanya sayu.

"Yes, Miss!" Beberapa anak lainnya merespon berlebihan.

"But remember, you should tell your family in Engslih." Matanya membulat, ada nada penekanan dari kata terakhirnya.

Si anak yang meresepon berlebihan tadi berbicara lagi, dengan nada sedikit protes, "sorry Miss, but I have not family in English." Kalimat terakhir inilah yang membuat Miss E merona merah di kedua pipinya, "you, get out from class!"

Hehe, anggap saja sebuah tulisan joke atau memang benar adanya. Dan pada kenyataannya banyak hal-hal dasar dan sangat dasar tidak dikuasai oleh anak-anak didik di kelas saya. Hebatnya lagi bukan anak-anak sekolah dasar atau TK nol besar. Mereka itu sudah kelas dua belas, kelas tiga SMA, dan tahun depan akan menjadi seorang mahasiswa (kalau melanjutkan belajar di perguruan tinggi). Nah lho, anak sebesar itu dengan pengalaman belajar lebih dari satu dekade, masih belum bisa menguasai konsep dasar di dalam ilmu sains dan bahasa Inggris.

Pada akhirnya kami berpikir tentang situasi seperti ini, kenapa bisa terjadi dan bagaimana pemecahannya?

Contoh lain dalam situasi guru matematika memberikan materi aritmetika di kelas sepuluh, kelas satu SMA. Dia memberikan soal pembagian, 500.000 dibagi 0,25, dan terhenyak ketika menunggu begitu lama jawaban dari anak-anak didiknya. Ditambah beberapa anak tidak dapat sama sekali menyelesaikannya. Ah, sangat-sangat konyol, dan tetap saja kami harus berani mengakui bahwa itulah anak-anak kita dengan berbagai kemampuannya. Apakah kami harus mencari kambing hitam, seperti oh, itu mah gara-gara didikan di SD-nya atau di SMP-nya. Oh, itu mah gara-gara kurikulum dari pemerintah terlalu berat. Oh, itu mah wajar, orang di sekolah tidak disediakan laboratorium kimia yang layak. Atau seperti apa.

Sekali lagi, pada akhirnya kami berpikir tentang situasi seperti ini, kenapa bisa terjadi dan bagaimana pemecahannya?

Silakan ditulis di kolom komentar, situasi seperti apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana solusinya?

-ooOoo-

#OneDayOnePost

6 comments:

  1. sama bund. Dulu pas sekolah juga gitu. Tapi sepertinya yg sekarang makin berat sih *kata si adek

    ReplyDelete
  2. Ini baca kaya lagi dinasehatin guru sendiri deh,
    Jaman sma dulu memang kurang tertarik dan berbakat didunia matematika.

    500.000 dibagi .025 pun, aku ngitung loh. Gak diluar kepala jawabannya.
    Hahahaa

    Tapi aku suka bgt tulisannya.
    Semangat terus mba...

    ReplyDelete
  3. Kalau tentang masalah pendidikan kayaknya kompleks penyebabnya 😊

    ReplyDelete
  4. duhhh muatan pelajaran jaman sekarang, terlalu berrattt

    ReplyDelete