:::: MENU ::::
Beberapa Kesalahan yang Sering Dilakukan oleh Penulis Pemula

Oleh: Bang Syaiha



Bang Syaiha One Day One Post


Melalui tulisan ini, saya, Bang Syaiha ingin menuliskan beberapa hal yang menurut saya kurang tepat, dan biasanya menjangkiti penulis-penulis pemula. Sepenuhnya ini adalah buah pikiran saya, jadi kedudukan tulisan ini masih bisa diperdebatkan. Kebenarannya tidak mutlak.


…dengan senang hati, silakan beri masukan dan saran di kolom komentar jika berkenan.


Lalu, tulisan ini juga sepertinya akan menjadi sangat panjang, sehingga saya memutuskan akan membuatnya dalam beberapa bagian dan dipisah-pisah menjadi beberapa postingan yang judulnya akan tetap sama, Beberapa Kesalahan yang Sering Dilakukan oleh Penulis Pemula.


Kesalahan pertama yang sering kali muncul pada penulis pemula adalah munculnya keinginan untuk cepat sukses dan sesegera mungkin menerbitkan bukunya. Berharap buku yang ia tulis untuk pertama kalinya itu, bisa sukses dan laku keras. Padahal, bagi saya, menulis dan menerbitkan buku adalah sebuah perjalanan yang amat panjang, harus dilalui dengan tahapan-tahapan yang berat.


Penulis pemula itu seperti seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Awalnya, mereka tidak bisa melakukan apapun. Kecuali hanya menangis, mengerjap-ngerjapkan mata, dan tersenyum. Perlahan tapi pasti, bayi berkembang. Ia mulai akan belajar bagaimana caranya tengkurap, duduk, merangkak, belajar berdiri, merayap, berjalan pelan, hingga kemudian berlari.


Semua tahapan yang ada, harus dilalui si bayi agar perkembangan yang ada padanya lengkap. Karena satu saja terlewati, hasilnya tidak baik untuk dirinya juga kelak ketika dewasa.


Pernah, ada kasus seorang anak yang bisa berjalan tanpa melalui proses merangkak. Orangtuanya senang dan merasa bahwa anaknya tumbuh dengan percepatan yang berbeda dibandingkan dengan bayi lainnya. Hingga ketika si anak dewasa, ternyata ia tidak bisa menggenggam barang apapun yang ia pegang dengan kuat. Genggamannya lemah.


Ketika diperiksa ke dokter saraf, ternyata ia harus menjalani proses terapi merangkak. Ia harus merangkak selama satu jam setiap hari seperti bayi, di usianya yang telah remaja itu. Begitulah, penulis pemula itu, agar ia bisa tumbuh dengan pondasi yang benar, maka ia harus sabar menjalani proses belajar. Rajin menulis dan gemar membaca.


Lalu….


…jika menulis dan menerbitkan buku saya ibaratkan seperti proses melahirkan, maka untuk sampai brojol ke dunia, dibutuhkan waktu sembilan bulan penuh. Agar apa? Agar semua organ yang dibutuhkan untuk bertahan hidup bisa sempurna ada. Lahir sebelum waktunya, bisa-bisa saja, tapi biasanya rentan.


Begitu pun dengan buku yang kita terbitkan. Ada waktu belajar yang semestinya kita jalani dengan sabar. Jangan terburu-buru ingin tenar. Santai saja. Menulis saja dulu, setiap hari kalau bisa. Jangan lupakan juga membaca, karena tanpa membaca, tulisan yang kamu hasilkan pasti tidak akan bernyawa.


Sebelumnya, saya pernah menulis tulisan yang judulnya sama dengan postingan ini. Itu adalah bagian pertama, silakan baca dulu bagi yang belum membacanya, klik DISINI.


Lanjut….


Jadi, penulis pemula    saya, sering kali melakukan kesalahan dalam perjalanan karir kepenulisannya. Sehingga memang, untuk membahas semua kesalahan itu, tidak mungkin dituangkan dalam satu postingan di blog. Karena hal inilah maka postingan ini hadir. Nanti, postingan dengan judul yang sama, chapter ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, juga akan lahir.


Maka bacalah…


Harapannya? Tentu saja agar kalian semua yang ingin menjadi penulis, tidak melakukan kesalahan yang sama, tidak mengulangi apa yang saya alami.


Oke, apa kesalahan kedua yang sering dilakukan oleh penulis pemula seperti saya?


Jawabannya adalah, NIAT UTAMANYA SALAH


Dulu, ketika pertama kali saya menulis dan menghasilkan buku, niat utama saya adalah (1) ingin mendapatkan banyak uang dari sana, dan, (2) dikenal oleh banyak orang    popularitas. Karena dua niat ini, saya kemudian menulis dan menulis. Berusaha menghasilkan buku, dan berpikir bahwa enak sekali jika sudah jadi bukunya nanti. Tinggal letakkan di toko buku dan kemudian banyak yang beli. Ujung-ujungnya buku saya akan menjadi BEST SELLER, saya mendapatkan banyak uang dan ketenaran.


Tapi eng ing eng…


Semua yang ada di bayangan saya itu tidak mudah terjadinya. Untuk menghasilkan buku ternyata prosesnya lama. Lalu malangnya, setelah buku jadi, penerimaan pasar juga belum tentu baik. Lihat saja, betapa banyak buku di Gramedia atau toko buku lainnya yang kemudian digudangkan karena tidak laku setelah tiga bulan dipajang. Digantikan buku baru yang lebih menjual.


Warga Indonesia ini, dari seminar literasi yang saya baca, berada pada posisi kedua dari bawah dalam hal minat baca. Artinya, warga kita, ketika memiliki uang, sebut saja, 100ribu, maka pasti lebih memilih untuk jalan-jalan, makan di luar, menonton bioskop, beli baju, dan hiburan lainnya. Membeli buku entah ada di urutan ke berapa.


Singkatnya, saya kemudian berhasil menerbitkan beberapa buku, SEPOTONG DIAM dan MASIH ADA. Keduanya adalah novel solo pertama dan kedua saya. Di pasaran, saya cukup beruntung karena walau saya benar-benar pemula, saya bisa menjual 300-500an eksemplar. Kebetulan juga, saya mencetaknya tidak begitu banyak. Memang segitu dan habis.


Tapi kan…


…300-500an eksemplar itu tidak bisa menjadikan sebuah buku mendapatkan predikat BEST SELLER. Masih jauh. Lalu ketika dihitung royalti yang saya dapatkan, jumlah segitu tidak seberapa. Padahal, menulis kedua novel itu butuh waktu lama, berdarah-darah   ini lebay, dan sebagainya.


Intinya tidak mudah.


Nah, karena niat awal saya yang salah, INGIN MENDAPATKAN UANG BANYAK dan KETENARAN, akhirnya saya kecewa. Kan begitu, kekecewaan terjadi ketika ada gap antara harapan dan kenyataan yang kita alami.


Saya mulai berpikir, jika begini ada yang tidak benar. Harus diperbaiki.


Niat itu harus yang lebih tinggi, lebih mulia dan kekal. Agar apa? Agar tidak kecewa. Agar semangat di dalam dada tetap ada.


Maka saya rubah deh niatnya, saya menulis karena saya memang ingin menulis. Semoga dengan demikian, tulisan yang saya buat ada manfaatnya ke orang lain. Semoga juga, tulisan yang saya buat, menjadi pahala buat saya kelak di akhirat.


Beuh… Mulia banget kan?


Dan ketika niat sudah berubah, maka semangat juga berubah. Menjadi lebih hidup dan rasa-rasanya ingin terus menulis setiap hari. Tidak penting ada yang baca atau tidak. Tidak peduli ada yang memuji atau tidak. Pokoknya saya harus bisa menulis setiap hari dan mempostingnya di blog atau di media sosial yang saya punya.



Apakah saya kemudian tidak ingin bisa menghasilkan uang banyak dari kepenulisan? Sebenarnya masih ingin, tapi itu saya jadikan niat yang entah ke berapa. Itu hanya sebab yang otomatis akan didapatkan dari orang yang menulis dan berhasil menjual bukunya dalam jumlah banyak. Bukan niat utama.

sumber: https://onedayonepost.org/

0 komentar:

Post a Comment